Warga di Selatan Kotim Krisis Air Bersih

Warga di Selatan Kotim Krisis Air Bersih

  • Dampak Kekeringan, Air Sungai Terasa Asin
  • Pemkab Kotim dan TNI Polri Salurkan Air ke Sejumlah Desa

SAMPIT – Kemarau panjang membuat persoalan krisis air bersih kembali menghantui masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Air Sungai Sampit yang menjadi sumber baku PDAM mulai terintrusi air laut hingga terasa asin dan tak lagi layak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga.

Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim harus memperpanjang distribusi air bersih ke sejumlah desa yang terdampak kekeringan. Pada Kamis (17/9/2026), sedikitnya 40.000 liter air bersih disalurkan kepada masyarakat di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan sekitarnya. Penyaluran dilakukan ke Desa Sei Ijum Raya, Sebamban dan Parebok. Sebelumnya, bantuan air bersih telah dikirim ke Desa Lempuyang.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, distribusi air bersih sebenarnya telah berlangsung sejak Agustus 2026. Penyaluran kali ini sekaligus menjadi momentum bagi pemerintah daerah turun langsung melihat kondisi masyarakat. “Hari ini kita secara seremonial menyerahkan air bersih. Ini khusus untuk warga kita di daerah selatan, yaitu Teluk Sampit dan sekitarnya, yang memang saat ini kesulitan air bersih,” katanya.

Menurut Halikinnor, persoalan yang terjadi bukan karena wilayah tersebut tidak memiliki jaringan PDAM. Jaringan pelayanan air sudah tersedia, namun sumber air bakunya mengalami masalah akibat masuknya air laut ke aliran Sungai Sampit.

“Di daerah ini yang kita salurkan, sebenarnya PDAM sudah masuk. Tetapi karena sumber air PDAM yang ada di Sungai Lepeh itu sumber air dari Sungai Sampit ternyata di sana sudah terkontaminasi dengan air laut,” jelasnya.

Intrusi air laut membuat air sungai berubah menjadi asin. Akibatnya, air tersebut tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, khususnya untuk kebutuhan minum dan memasak.

See also  Lahan Sawit PT STP-1 Wilmar Grup Terbakar, Pemukiman Warga Dikepung Asap Karhutla

Pemkab Kotim memilih memperkuat distribusi air bersih sebagai langkah cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mencegah munculnya persoalan kesehatan akibat keterbatasan air layak konsumsi. “Kita menyalurkan ini karena memang kalau air bersih ini berdampak sekali terhadap kesehatan. Jangan sampai nanti kita rentan terkena diare, misalnya, karena masalah krisis air bersih ini,” ujarnya.

Dalam distribusi kali ini, pemerintah dan unsur terkait mengerahkan delapan mobil tangki serta 28 unit profil tank atau tandon air. Tandon tersebut dibawa menggunakan kendaraan double cabin sehingga dapat menjangkau permukiman dan gang-gang sempit. “Truk tangkinya ada delapan. Kalau profil tank-nya ada 28 unit,” kata Halikinnor.

Salah satu lokasi yang mendapat bantuan berada di Desa Sei Ijum Raya dengan 300 kepala keluarga. Penyaluran juga dilakukan ke Sebamban dan Parebok.

Setiap kepala keluarga mendapat alokasi 200 liter air. Warga diminta menggunakan bantuan tersebut secara bijak dan memprioritaskannya untuk kebutuhan konsumsi. “Ini 200 liter per satu KK. Artinya, saya pesankan tadi, jangan dipakai untuk mandi. Ini khusus untuk air minum dan masak,” tegasnya.

Halikinnor memastikan distribusi air bersih masih akan dilanjutkan selama masyarakat mengalami kekeringan. Pemerintah desa diminta aktif melaporkan kondisi warganya agar bantuan dapat segera kembali dikirim ketika persediaan air menipis. “Sepanjang nanti ada laporan dari kepala desa bahwa mereka masih kekeringan dan membutuhkan, kita akan tetap salurkan,” katanya.

Distribusi air bersih tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pemkab Kotim, TNI, Polri, perangkat daerah hingga sejumlah perusahaan yang membantu penyediaan armada pengangkutan.

Selain menyalurkan air, kunjungan tersebut juga dimanfaatkan pemerintah untuk menyerap langsung keluhan masyarakat. Halikinnor mengatakan informasi dari lapangan diperlukan agar kebijakan yang diambil benar-benar menyasar persoalan yang paling mendesak.

See also  Pembangunan Fisik Terdampak Kenaikan Harga BBM dan Material, BPKAD Pastikan Pagu APBD Tak Berubah

“Di samping menyalurkan air bersih, kita juga ingin mendengar langsung dari masyarakat mengenai apa saja keluhannya. Sehingga nanti dalam membuat kebijakan, kita tahu mana kebijakan urgen yang harus diambil untuk menyejahterakan masyarakat. Termasuk soal krisis air bersih ini,” pungkasnya. (pri/ens)


Dilihat 17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *