PURUK CAHU,KOMPAS – Warga masyarakat mengeluhkan progres pekerjaan Rehabilitasi Jembatan Sanggrahan di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, yang hingga kini belum selesai dan belum bisa dilalui kendaraan. Padahal proyek dengan nilai miliaran rupiah tersebut sudah berjalan hampir enam bulan sejak awal tahun 2026.
Pantauan awak media di lapangan, Selasa 23 September 2026 pukul 13:52 WIB, kondisi jembatan yang menjadi akses vital warga tersebut masih dalam tahap pengerjaan rangka baja dan pembesian lantai. Lantai jembatan belum dilakukan pengecoran, masih terlihat anyaman besi wiremesh, dan akses masuk masih dipasangi garis pembatas polisi kuning-hitam serta tangga kayu darurat.
Material besi beton masih menumpuk di ujung oprit jembatan dan satu unit alat berat excavator merk Hyundai masih terparkir di lokasi proyek yang berlokasi tidak jauh dari pemukiman warga.
Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, pekerjaan tersebut merupakan milik Pemerintah Kabupaten Murung Raya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Murung Raya.
Adapun rincian proyek tersebut adalah:
– Nomor Kontrak: 600.1.10/1.2/DPUPR/2026
– Tanggal Kontrak: 31 Maret 2026
– Program: Penyelenggaraan Jalan
– Kegiatan: Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota
– Sub Kegiatan: Rehabilitasi Jembatan
– Pekerjaan: Rehabilitasi Jembatan Sanggrahan
– Nilai Kontrak: Rp. 6.600.000.174,86 (Enam Miliar Enam Ratus Juta Seratus Tujuh Puluh Empat Rupiah)
– Penyedia Jasa: CV. REHOBOT ABADI, Pusat Palangka Raya
Dengan nilai kontrak hampir Rp 6,6 miliar, warga mempertanyakan lambatnya progres di lapangan. Warga menilai pekerjaan tidak sebanding dengan besarnya anggaran dan durasi waktu yang telah berjalan.
Lambannya rehabilitasi Jembatan Sanggrahan ini berdampak langsung pada aktivitas warga. Warga terpaksa harus memutar hingga beberapa kilometer melalui jalan alternatif yang kondisinya rusak parah, becek dan licin saat hujan.
Salah seorang warga Sanggrahan, Andi (38), mengaku sangat dirugikan.
“Sudah berbulan-bulan belum selesai juga. Kami mengeluh karena sangat menyulitkan. Harus memutar jauh lewat jalan alternatif yang rusak. Biaya bensin jadi double,” keluhnya, Selasa (23/9/2026).
Ia menambahkan, akses yang terputus ini menghambat semua aktivitas, mulai dari anak sekolah, warga yang sakit ingin berobat, hingga petani yang ingin mengangkut hasil kebun.
“Sudah hampir 6 bulan sejak kontrak Maret, tapi sampai sekarang belum jadi. Kami masyarakat sangat mengeluh, akses jadi susah. Anak sekolah, orang sakit, angkut hasil kebun semua terhambat,” ujar warga lainnya.
Warga juga mempertanyakan transparansi dan pengawasan dari Dinas PUPR Murung Raya terhadap kinerja kontraktor CV. Rehobot Abadi.
“Jangan sampai proyek besar begini mangkrak. Nilai Rp 6,6 miliar itu besar. Kami minta Bupati Murung Raya dan Kadis PUPR turun langsung lihat kondisi di lapangan,” tegas warga.
Masyarakat kini hanya bisa berharap ada kejelasan kapan Jembatan Sanggrahan akan rampung 100 persen dan bisa digunakan kembali secara normal.
“Kami mohon kepada pemerintah, jangan dibiarkan mangkrak seperti ini. Kasihan masyarakat kecil yang setiap hari lewat sini. Tolong segera diselesaikan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas PUPR Kabupaten Murung Raya dan pelaksana proyek CV. Rehobot Abadi Palangka Raya belum memberikan keterangan resmi terkait progres dan penyebab keterlambatan Rehabilitasi Jembatan Sanggrahan tersebut.(Red)


