Tercatat 2.479 Kejadian dan 77.760 Kasus ISPA
PALANGKA RAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) sepanjang 2026 terus menjadi perhatian serius.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBD) Provinsi Kalteng periode 1 Januari hingga 3 September 2026, tercatat 714 bencana, dengan karhutla menjadi salah satu kejadian yang paling menonjol.
Data tersebut mencatat 68.667 jiwa terdampak bencana, 13 jiwa mengalami luka atau sakit, tidak ada korban hilang, serta satu orang meninggal dunia. Untuk kejadian karhutla, tercatat 2.479 kejadian. Selain itu, terdapat 47 kejadian banjir, 50 cuaca ekstrem, tiga abrasi, tiga tanah longsor, serta 125 kebakaran permukiman.
Dari sisi kerusakan, 8.412 rumah terdampak. Rinciannya, 215 unit mengalami rusak berat, 30 unit rusak sedang, dan 58 unit rusak ringan.
Bencana juga berdampak pada 43 rumah ibadah, 93 satuan pendidikan, 25 fasilitas kesehatan, 16 kantor, 91 titik jalan, dan 60 jembatan. Sementara tidak tercatat adanya kebun atau sawah yang tergenang.
Besarnya skala karhutla juga terlihat dari jumlah titik panas yang terpantau. Hingga 3 September 2026, tercatat 64.953 hotspot di Kalteng. Berdasarkan citra satelit landsat 8 dan OLI/TIRS, luas area yang terbakar mencapai 7.634 hektare.
Penanganan karhutla melibatkan kekuatan personel gabungan yang mencapai 10.700 orang. Pemerintah juga mencatat 29 kasus telah masuk proses penegakan hukum. Dukungan operasi udara disiapkan melalui enam helikopter serta satu pesawat operasi modifikasi cuaca (OMC) maupun patroli.
Kondisi tersebut membuat Pemprov Kalteng meningkatkan status penanganan. Status tanggap darurat karhutla diberlakukan mulai 31 Agustus hingga 29 September 2026.
Kenaikan status tersebut diharapkan memperkuat koordinasi lintas instansi, mempercepat pengerahan personel dan peralatan, serta memudahkan mobilisasi sumber daya ke wilayah terdampak.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran mengatakan, status tanggap darurat akan mempermudah pemerintah mengoordinasikan tugas pengamanan dan penanganan bencana.
“Dengan status tanggap darurat ini kita akan lebih mudah dalam rangka mengoordinasikan tugas-tugas pengamanan dan penanganan bencana,” ungkapnya.
Penanganan karhutla tidak hanya diarahkan pada pemadaman titik api. Pemerintah juga berupaya menangani dampak yang ditimbulkan. Terutama kabut asap, sekaligus memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak semakin meluas.
Untuk mendukung penanganan tersebut, Pemprov Kalteng menyiapkan Belanja Tidak Terduga (BTT) Rp 72 miliar. “Anggarannya masih ada. Semula kita anggarkan 72 miliar rupiah melalui BTT,” kata Agustiar.
Untuk memperkuat upaya pemadaman dan pencegahan, sekitar 10 ribu personel gabungan dikerahkan ke wilayah rawan. “Personel tersebut terdiri dari aparatur sipil negara (ASN) Pemprov Kalteng, pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, masyarakat peduli api (MPA), relawan, hingga komunitas dan kampus. Mereka disebar ke titik-titik rawan karhutla di seluruh kabupaten dan kota di Kalteng,” ungkapnya.
Pemerintah juga melakukan operasi modifikasi cuaca. Namun pelaksanaannya belum selalu memberikan hasil maksimal karena sangat bergantung pada kondisi atmosfer.
Agustiar mengatakan OMC sebelumnya telah beberapa kali dilakukan di Kalteng. Beberapa pelaksanaan berhasil, sementara lainnya terkendala kondisi alam.
“Sudah beberapa kali kita coba OMC, ada beberapa kali yang sukses. Selebihnya, ya,” katanya.
Menurutnya, salah satu kendala utama adalah minimnya awan yang dapat menjadi sasaran modifikasi cuaca. “Kendalanya Kalteng ini, Kalimantan ini mungkin daerah khatulistiwa, awannya kurang. Nah, itu faktornya,” jelasnya.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah juga berdampak terhadap efektivitas operasi udara.
Kalaksa BPBPK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, operasi water bombing belum dapat dilakukan maksimal karena jarak pandang atau visibility yang menurun.
Kondisi tersebut menjadi kendala serius, terutama ketika kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah seperti Tumbang Nusa. Kobaran api di kawasan tersebut bahkan disebut bergerak cepat karena dipengaruhi angin kencang.
“Optimalisasi water bombing melalui satgas udara tidak bisa dilakukan secara maksimal. Makanya pergerakan apinya menjadi cepat karena didukung angin kencang di lokasi,” kata Toyib, Senin (31/8/2026).
Dalam dua hari terakhir, visibility di Kota Palangka Raya mengalami penurunan cukup signifikan. Kondisi ini membuat pergerakan helikopter terbatas karena operasi water bombing membutuhkan jarak pandang yang memenuhi standar keselamatan.
Toyib menyebut helikopter water bombing baru dapat bekerja apabila jarak pandang di Palangka Raya berada di atas 1.500 meter. “Sekarang ada empat unit yang siap bekerja. Tinggal menunggu visibility di Palangka Raya. Kalau visibility-nya di atas 1.500, heli WB bisa bekerja,” ujarnya.
Dengan demikian, persoalan bukan semata-mata ketersediaan armada. Dari lima unit water bombing yang disiapkan, empat unit disebut dalam kondisi siap digunakan.
Satu unit yang sebelumnya menjalani maintenance telah kembali beroperasi. Sedangkan satu unit lainnya masih dalam proses perbaikan karena harus melakukan penggantian mesin.
Namun kesiapan armada tersebut belum otomatis membuat operasi udara berjalan maksimal. Faktor cuaca dan jarak pandang tetap menjadi penentu utama keselamatan penerbangan dalam menjalankan misi water bombing. Dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalteng, sebanyak 77.760 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Pemprov Kalteng menyiapkan fasilitas rumah oksigen di sejumlah wilayah dan membagikan masker secara gratis kepada masyarakat.
Sebanyak 11 lokasi rumah oksigen disiapkan di sejumlah kabupaten/kota. Fasilitas tersebut berada di rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit pratama, dengan sebagian besar layanan tersedia selama 24 jam.
Rumah oksigen tersebut antara lain tersedia di RSJ Kalawa Atei, RSUD Hanau, RSUD Sultan Imanuddin, Rumah Sakit Pratama Kutaringin, RSUD Parenggean, RS Pratama Katingan Kuala, RSUD Kuala Kurun, RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, RSUD Muara Teweh, RSUD Gusti Abdul Gani, serta RSUD Pulang Pisau.
Sebagian besar fasilitas beroperasi selama 24 jam. Khusus layanan rumah oksigen di RSUD Pulang Pisau, pelayanan tersedia selama delapan jam. Kabut asap dengan kualitas udara yang dinilai membahayakan juga berdampak terhadap aktivitas pendidikan.
Pemprov dan pemerintah kota menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan tersebut terus dievaluasi dan diperpanjang setiap tiga hari menyesuaikan kondisi di lapangan.
Dampak karhutla juga mulai dirasakan pelaku usaha kecil. Aktivitas ekonomi masyarakat mengalami penurunan karena warga cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah.
Indra Maulana (21), pelaku UMKM yang menjaga booth es teh, mengaku pendapatannya menurun sejak kabut asap melanda. Menurutnya, banyak masyarakat memilih berada di rumah sehingga jumlah pembeli ikut berkurang.
“Kabut asap amat berpengaruh, menurut saya jual beli masyarakat sekarang lesu, bahkan untuk menjual 20 cup es teh saja cukup sulit,” keluhnya.
Di tengah ancaman karhutla dan kabut asap, sejumlah wilayah Kalteng juga menghadapi persoalan keterbatasan air bersih akibat kondisi kekeringan. Berdasarkan data sementara hingga Rabu (2/9/26), total bantuan air bersih yang telah didistribusikan mencapai 158.800 liter.
Bantuan tersebut disalurkan ke desa-desa yang tersebar di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kota Palangka Raya, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Katingan, Kabupaten Murung Raya, Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Barito Selatan.
Rangkaian dampak tersebut menunjukkan bahwa karhutla di Kalteng bukan hanya persoalan titik api dan luas lahan terbakar. Dampaknya telah merambah berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga kebutuhan dasar masyarakat.
Dengan status tanggap darurat yang berlaku hingga 29 September 2026, pemerintah dituntut memastikan seluruh sumber daya yang telah dikerahkan dapat bekerja secara efektif untuk menekan penyebaran karhutla sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kabut asap. (ifa)
Data BPBD Kalteng periode 1 Januari – 3 September 2026:
Total Bencana 714 Kejadian:
Dampak Bencana
1. 68.667 jiwa terdampak, 13 jiwa luka/sakit, 1 meninggal
2. 2.479 kejadian karhutla
3. 47 kejadian banjir
4. 50 kejadian cuaca ekstrem
5. 3 kejadian abrasi
6. 3 kejadian tanah longsor
7. kejadian kekeringan
8. 125 kejadian kebakaran permukiman
Dampak Kerusakan Akibat Bencana:
1. 8.412 unit rumah terdampak
2. 215 unit rumah rusak berat
3. 30 unit rumah rusak sedang
4. 58 unit rumah rusak ringan
5. 43 unit rumah ibadah
6. 93 unit satuan pendidikan
7. 25 unit fasilitas kesehatan
8. 16 unit kantor
9. 91 titik jalan
10. 60 unit jembatan
11. 0,00 ha kebun/sawah tergenang
Data & Fakta Karhutla:
- Titik Hotspot: 64.953 HS
- Area Terbakar sesuai citra satelit landsat 8 & OLI/TIRS: 7.634 Ha
- Personel Gabungan: 10.700 orang
- Kejadian Karhutla: 2.479 kejadian
- Penegakan Hukum: 29 kasus
- Helikopter: 6 unit
- Pesawat OMC/Patroli: 1 unit
Dilihat 19


