Tiga Strategi Pusat Padamkan Karhutla di Kalteng

Tiga Strategi Pusat Padamkan Karhutla di Kalteng

OMC, Teknologi Dry Ice dan Pengerahan Helikopter Water Bombing

SAMPIT – Pemerintah pusat menyiapkan tiga langkah penting untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mengancam Kalimantan Tengah (Kalteng). Mulai dari operasi modifikasi cuaca (OMC), uji coba teknologi dry ice, hingga pengerahan helikopter water bombing akan dioptimalkan untuk menekan kebakaran dan dampak kabut asap di Kalteng.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan, pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Hal itu disampaikan Raja Juli saat tiba di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu malam (17/10/2026), setelah meninjau langsung penanganan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

“Kalimantan kita memang sedang tidak baik-baik saja. Tantangan kita masih besar. Namun saya juga ingin memastikan bahwa pemerintah tidak cuci tangan, tidak lepas tangan, bahkan sebaliknya hadir semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa api padam,” tegasnya.

Raja Juli menjelaskan, pemerintah mengandalkan tiga strategi utama melalui operasi udara. Pertama, OMC untuk memanfaatkan potensi awan hujan. Kedua, uji coba dry ice sebagai salah satu upaya yang sedang dikembangkan untuk membantu mengatasi persoalan kabut asap. Ketiga, pemadaman menggunakan helikopter water bombing.

Menurut dia, pelaksanaan OMC masih bergantung pada ketersediaan bibit awan yang dapat disemai. Ketika kondisi atmosfer sangat kering, keberadaan awan potensial menjadi terbatas sehingga pelaksanaan operasi tidak selalu dapat dilakukan sesuai harapan.

Karena itu, pemerintah berupaya mengembangkan alternatif melalui teknologi dry ice. Raja Juli mengatakan, pemasok material tersebut telah ditemukan di Kalimantan dan operasi direncanakan dimulai menuju Palangka Raya, dengan sasaran awal membantu memperbaiki jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut.

Ia mengungkapkan, penggunaan dry ice sebelumnya telah dilakukan di Sumatera Selatan. Berdasarkan laporan yang diterimanya, jarak pandang yang semula sekitar 300 meter meningkat menjadi 2.800 meter, sedangkan angka PM2.5 yang dilaporkan turun dari 660 menjadi 200.

See also  Warnita Heriyus Ikuti Kegiatan Kunker Ke Posyandu Parawai

Meski demikian, ia menegaskan hasil tersebut masih perlu dievaluasi untuk memastikan apakah perubahan itu benar-benar disebabkan oleh penggunaan dry ice atau turut dipengaruhi faktor lainnya. “Karena ini adalah suatu hal yang baru, kita akan try and error, kita coba. Kalau nanti efektif, kita geser terus ke kabupaten-kabupaten lain,” ujarnya.

Sementara itu, pemadaman menggunakan helikopter masih menghadapi kendala jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap. Raja Juli menyebut terdapat enam helikopter milik BNPB dan Kementerian Kehutanan yang disiapkan di Kalteng, di luar armada swasta yang turut membantu.

Ia menegaskan, operasi udara tidak akan dipaksakan jika kondisi penerbangan membahayakan awak helikopter. Pemerintah lebih mengutamakan keselamatan personel daripada mengambil risiko kecelakaan.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, helikopter swasta telah melaksanakan 16 kali water bombing di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Pemerintah juga berupaya memperkuat dukungan armada agar pemadaman di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat dapat ditingkatkan.

Selain operasi udara, penambahan personel dan peralatan pemadam juga menjadi perhatian. Raja Juli menyebut, koordinasi akan terus dilakukan bersama BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan relawan untuk memenuhi kebutuhan di lapangan.

Ia berharap berbagai strategi tersebut dapat mempercepat pemadaman, mencegah api kembali menyala, serta mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat. “Kita hadir, pak. Kita coba begitu. Sekali lagi, pemerintah tidak lepas tangan,” tandasnya. (pri/ens)

Dilihat 23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *