Merasakan Langsung Kabut Asap Akibat Karhutla
PALANGKA RAYA – Suara anak muda dan influencer menguatkan desakan agar pemerintah tidak hanya melihat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kalimantan dari balik meja. Mereka mengajak pemerintah pusat untuk berkantor selama 30 hari di Kalimantan Tengah agar dapat merasakan langsung dampak karhutla yang dialami masyarakat.
Seruan tersebut disampaikan Gubernur BEM FISIP UPR Yosafat Menteng, influencer Virdian Aurellio, dan Gubernur BEM FH UPR Naomi Simamora dan sejumlah anak muda di Palangka Raya. Ajakan itu dikemas dalam gerakan dengan tagar #SupayaMerekaMerasakan, yang mendorong pemerintah hadir lebih dekat di tengah masyarakat terdampak bencana kathutla.
Menurut mereka, kehadiran pemerintah pusat selama 30 hari di Kalteng diharapkan menjadi langkah untuk melihat dan merasakan langsung persoalan yang muncul akibat karhutla. Mulai dari kualitas udara, kesehatan warga, hingga berbagai kebutuhan dasar yang disebut masih menjadi persoalan di tengah bencana saat ini.
Mereka juga menyuarakan delapan tuntutan nasional. Salah satunya mendesak karhutla Kalimantan ditetapkan sebagai bencana nasional, sehingga penanganannya mendapat prioritas dan masyarakat terdampak memperoleh perhatian lebih besar.
Tuntutan lainnya menyasar korporasi yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran. Virdian Aurellio menyerukan pencabutan izin, proses hukum, serta keterbukaan mengenai perusahaan yang terbukti membakar hutan Kalimantan. “Cabut izin, adili, umumkan seterang-terangnya korporasi yang membakar hutan Kalimantan,” serunya, Minggu malam (4/10/2026) di Tugu Soekarno Palangka Raya.
Mereka juga meminta seluruh lokasi karhutla diaudit, termasuk status kepemilikan dan perizinan lahannya.
Di sisi anggaran, mereka meminta penguatan manajemen sekaligus transparansi penggunaan anggaran penanganan karhutla. Mereka juga menolak pemotongan anggaran kebencanaan dan mendorong pengembalian Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk mendukung pemulihan hutan dan lahan.
Persoalan kebutuhan dasar turut masuk dalam tuntutan. Mereka meminta pemerintah menyelesaikan kelangkaan BBM, menjamin akses air bersih dan listrik, serta memastikan pemulihan kesehatan dan bantuan kesehatan gratis bagi masyarakat terdampak karhutla.
Selain itu, mereka menyerukan evaluasi terhadap pejabat yang dinilai gagal menangani karhutla serta meminta proses hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab. Melalui tagar #SupayaMerekaMerasakan, suara anak muda dan influencer tersebut menegaskan bahwa penanganan karhutla menurut mereka tidak cukup hanya memadamkan api, tetapi juga harus menyentuh pemulihan lingkungan, kebutuhan masyarakat, transparansi anggaran, dan penegakan hukum. (ter/ens)
Dilihat 29


