PALANGKA RAYA,KOMPAS — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah atau Kalteng. Di balik pekatnya asap, dampak kesehatan mulai terasa nyata.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng mencatat sebanyak *77.760 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA* telah terjadi di seluruh kabupaten/kota se-Kalteng sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Yang lebih mengkhawatirkan, lonjakan kasus ISPA terjadi signifikan saat memasuki Juli sampai Agustus. Periode ini bertepatan dengan meningkatnya titik karhutla dan memburuknya kualitas udara di Kalteng.
Berdasarkan data Dinkes Kalteng, 5 daerah dengan kasus ISPA tertinggi adalah:
Kabupaten/Kota Jumlah Kasus ISPA
Kota Palangka Raya 17.061
Kotawaringin Barat 13.125
Kapuas 8.578
Kotawaringin Timur 8.462
Barito Selatan 5.751
Sementara daerah lain seperti Barito Timur 5.636 kasus, Barito Utara 5.335 kasus, dan Murung Raya 3.713 kasus. Total 14 kabupaten/kota di Kalteng semuanya mencatat adanya peningkatan kasus ISPA.
Kasus berat juga terjadi di Kabupaten Murung Raya. Seorang anak berusia 11 tahun meninggal dunia setelah mengalami sesak napas. Kondisi kesehatannya terus menurun selama kabut asap melanda.
Korban diketahui memiliki riwayat penyakit lain yang sudah lama diderita. Ia juga kerap dibawa orangtuanya bekerja di lapangan dan terpapar langsung asap. Saat sesak napas, korban sempat dibawa ke rumah sakit di Mura.
Plh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit atau P2P Dinkes Kalteng, Yaesarwawan mengatakan pihaknya masih mengkaji dari sisi surveilans epidemiologi untuk memastikan hubungan paparan asap karhutla dengan kematian anak tersebut.
“Dugaan sementara berdasarkan surveilans epidemiologi, memang ada kaitan,” kata Yaesarwawan, Jumat 4/9/2026.
Namun Dinkes Kalteng belum menyatakan kematian tersebut secara definitif disebabkan asap karhutla. “Secara data kita tidak ada, kecuali hasil pendugaan sementara di atas,” ujarnya.
Asap karhutla bukan hanya mengganggu pandangan. Hasil pembakaran hutan dan lahan membawa polutan berbahaya seperti partikel halus PM2,5, karbon monoksida CO, nitrogen dioksida NO₂, dan sulfur dioksida SO₂.
Polutan tersebut dapat memicu atau memperburuk ISPA, asma, pneumonia, sesak napas, penurunan fungsi paru hingga iritasi mata.
Karena itu, saat kualitas udara masuk kategori tidak sehat hingga buruk, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta berada dalam posisi paling berisiko.
Angka 77.760 kasus ISPA ini menjadi alarm kesehatan bagi Kalteng. Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar, memperbanyak minum air putih, dan segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala sesak napas.(Red)


