PALANGKA RAYA – Kualitas udara di Palangka Raya yang disebut telah masuk level berbahaya akibat kabut asap karhutla belum membuat pembelajaran jarak jauh atau PJJ diterapkan bagi siswa SMA dan SMK.
Di tengah kekhawatiran orang tua terhadap kesehatan anak, Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, justru meminta sekolah mempertimbangkan berbagai dampak jika pembelajaran dialihkan ke rumah.
Salah satu pertimbangan yang disampaikan adalah keberlangsungan program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Menurut Reza, jika aktivitas sekolah dihentikan, operasional dapur MBG dan kantin sekolah juga ikut terdampak.
“Dapur MBG mati Bu, kantin-kantin mati,” ujar Reza dalam pertemuan melalui Zoom bersama sejumlah kepala sekolah.
Selain MBG, Reza juga mengkhawatirkan aktivitas siswa jika dipulangkan ke rumah.
Ia menyebut ada kemungkinan siswa justru pergi ke kafe atau berkumpul di luar rumah.
Sementara itu, SE Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan bahwa layanan pendidikan di daerah terdampak asap perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan tingkat risiko kesehatan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan dari wali murid, apakah keberlangsungan MBG dan aktivitas sekolah menjadi pertimbangan lebih kuat dibanding risiko kesehatan siswa akibat paparan kabut asap?
Di tengah udara yang memburuk, publik kini menunggu kejelasan pemerintah mengenai indikator kapan PJJ akan diberlakukan dan sejauh mana keselamatan siswa menjadi prioritas.
Dilihat 39


