PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Agustiar Sabran angkat bicara terkait sorotan publik terhadap ulang tahun istrinya, Aisyah Thisia Agustiar Sabran.
Sorotan mencuat setelah jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) menyampaikan ucapan selamat di media sosial milik Pemeritah Provinsi Kalteng, bahkan momentum tersebut disebut turut diwarnai iklan ucapan ulang tahun satu halaman penuh di media cetak.
Sorotan tersebut muncul di tengah kondisi Kalteng yang sedang menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.
Menanggapi hal itu, Agustiar meminta persoalan tersebut tidak dibesar-besarkan. Ia menilai memberikan ucapan selamat ulang tahun merupakan hal yang wajar dan tidak identik dengan pesta atau perayaan berlebihan.
“Ya itu wajar, jangan juga membesar-besarkan, kecuali dia berpesta pora, itu kan tidak, cuma ucapan gitu, saya rasa tidak (masalah),” ujar Agustiar saat diwawancarai awak media di Istana Isen Mulang, Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, Palangka Raya, Senin (31/8/26).
Agustiar menegaskan tidak ada pesta pora dalam momentum ulang tahun istrinya tersebut. Menurutnya, ucapan selamat ulang tahun bukan sesuatu yang seharusnya dipersoalkan secara berlebihan.
Ia bahkan mempertanyakan apakah memberikan ucapan ulang tahun kepada seseorang merupakan tindakan yang dilarang.
“Contohnya ini orang mengucapkan ulang tahun, apakah dilarang?” katanya.
Meski demikian, Agustiar tidak menampik bahwa momentum tersebut bisa dinilai kurang tepat karena berlangsung ketika Kalteng tengah menghadapi situasi karhutla dan kabut asap.
Ia pun memilih mengambil hikmah dari kritik yang muncul. “Tapi, anggap saja itu salah, sudahlah, kita tutup buku itu, kami ambil hikmahnya, semua itu ada hikmahnya,” ujarnya.
Terkait adanya iklan ucapan ulang tahun satu halaman penuh di media cetak yang ikut menjadi sorotan, Agustiar tidak secara khusus menjelaskan mengenai mekanisme maupun sumber pembiayaan iklan tersebut dalam keterangannya.
Ia kembali menekankan agar persoalan tersebut tidak diperpanjang.
“Kami ambil hikmahnya saja, kami ambil hikmahnya saja,” tuturnya.
Polemik ini pun tidak hanya menyangkut soal ucapan selamat ulang tahun. Di tengah bencana karhutla dan kabut asap, perhatian publik turut tertuju pada kepantasan penggunaan sumber daya pemerintah serta sensitivitas jajaran pemerintah dalam menentukan momentum sebuah kegiatan atau ucapan.
Agustiar pun menutup pernyataannya dengan meminta persoalan tersebut dianggap selesai. “Sudahlah, kita tutup buku itu,” tandasnya. (ifa/)
Dilihat 8


