Pesawat Terganggu Asap karena Jarak Pandang

Pesawat Terganggu Asap karena Jarak Pandang

Penumpang Menumpuk di Bandara, Pemko dan Pemprov Turun Tangan

PALANGKA RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palangka Raya tidak hanya mengganggu aktivitas warga di darat. Sektor penerbangan juga ikut terdampak karena jarak pandang turun hingga di bawah batas aman untuk pesawat melakukan lepas landas maupun pendaratan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya.

General Manager Bandara Tjilik Riwut I Made Darmawan mengatakan, secara fasilitas, bandara dalam kondisi siap melayani. Seluruh sumber daya manusia, proses pelayanan, terminal hingga fasilitas pendaratan tetap berfungsi normal. Kendala utama, menurutnya, berada pada jarak pandang akibat kepekatan kabut asap.

“Bandara Tjilik Riwut ini serviceable, tidak ada masalah. Fasilitas yang ada di airport, baik fasilitas bandar udara, terminal, dan fasilitas pendaratan semuanya berfungsi dengan baik,” katanya kepada Radar Kalteng, Selasa (6/10/2026).

Ia menjelaskan, pada 23 September lalu jarak pandang sempat berada di bawah 1.000 meter. Kondisi tersebut membuat pesawat tidak dapat melakukan take-off maupun landing. Padahal untuk mendukung keselamatan penerbangan, jarak pandang yang aman berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 meter.

Dampaknya, sejumlah penerbangan sempat mengalami pembatalan maupun penjadwalan ulang. Penumpang yang membeli tiket secara daring harus mengikuti kebijakan masing-masing maskapai, baik untuk pengembalian dana maupun reschedule. Kondisi ini kemudian membuat sebagian penumpang tertahan di Bandara Tjilik Riwut.

I Made menyebut, pihak bandara pun berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Palangka Raya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk menangani dampak sosial tersebut. Penumpang yang memilih melanjutkan perjalanan melalui Banjarmasin mendapat dukungan mobilisasi sehingga dapat meneruskan perjalanan dari Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin ke kota tujuan.

“Pak wali dan tim melalui kepala dinas kota sangat men-support. Kami juga tetap mengakomodir masyarakat yang masih terdampak di bandara untuk menunggu penerbangan berikutnya,” ujarnya.

See also  Laksanakan Apel Gabungan. Pemkab Mura dukung Penuh Kelancaran Sidang Sinode GKE 2026

Bagi penumpang yang masih bertahan, pihak bandara menyediakan ruang tunggu khusus, karpet, air minum serta fasilitas pengisian daya telepon seluler. Dinas Sosial juga memberikan dukungan berupa makan pagi bagi penumpang yang terdampak selama berada di bandara.

Mayoritas penumpang yang sempat tertahan, merupakan pekerja atau buruh yang hendak pulang ke daerah asal di luar Kalteng. Di antaranya memiliki tujuan Jakarta, Palembang, Surabaya, Kupang hingga Semarang. Sebagian memilih bertahan karena ongkos perjalanan darat menuju Banjarmasin atau daerah tujuan dinilai cukup berat.

Memasuki 6 Oktober, kondisi tersebut berangsur teratasi. I Made menyebut, penumpang yang sebelumnya tertahan sudah berhasil melanjutkan perjalanan. Aktivitas penerbangan juga mulai kembali lancar dalam beberapa hari terakhir seiring membaiknya jarak pandang.

Koordinasi dengan pemerintah daerah tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan serupa. I Made mengatakan, pihaknya terus memperbarui kondisi Bandara Tjilik Riwut kepada Wali Kota Palangka Raya serta Gubernur Kalteng melalui jajaran terkait. “Keselamatan penerbangan itu priority. Ketika jarak pandang tidak aman, penerbangan pasti melakukan alternatif, apakah divert, singgah di bandara lain atau kembali ke origin,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Palangka Raya Hadi Suwandoyo mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pengelola Bandara Tjilik Riwut. Menurutnya, penumpukan penumpang terjadi karena penerbangan yang awalnya mengalami delay akhirnya dibatalkan akibat kondisi kabut asap yang tidak dapat diprediksi secara pasti.

“Memang selama kabut asap ini kami selalu berkoordinasi dengan GM Angkasa Pura. Angkasa Pura ini merupakan mitra dari perhubungan, kaitannya dengan transportasi udara, baik perhubungan kota maupun perhubungan provinsi,” kata Hadi saat dijumpai.

Menurut Hadi, sebagian penumpang bahkan harus bermalam di bandara karena belum mendapat kepastian penerbangan. Mereka mayoritas merupakan pekerja atau buruh perkebunan yang hendak pulang ke daerah asal setelah pekerjaan selesai. Tiket perjalanan mereka umumnya disiapkan oleh pihak pemberi kerja.

See also  Pemkab Mura Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi dan Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026

Atas arahan Wali Kota Palangka Raya, Dishub memfasilitasi armada bus untuk membantu penumpang yang telah berhari-hari tertahan. Sekitar 18-20 orang diangkut dari Bandara Tjilik Riwut menuju Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, melalui koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola bandara dan pihak maskapai.

“Alhamdulillah, atas koordinasi semua pihak, baik Angkasa Pura, Pemerintah Kota Palangka Raya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, GM Angkasa Pura bersama pihak maskapai dan pihak Bandara Syamsudin Noor, penumpang kami berangkat pagi menuju Syamsudin Noor. Sorenya mereka sudah bisa diterbangkan,” ujarnya.

Hadi menegaskan, fasilitasi tersebut bukan berupa penggantian tiket. Tiket penumpang tetap berlaku, sementara Pemko Palangka Raya melalui Dishub memberikan layanan bus secara gratis menuju Bandara Syamsudin Noor agar mereka dapat melanjutkan perjalanan. Skema serupa akan dilakukan secara situasional jika kembali terjadi penumpukan penumpang.

Di sisi lain, Hadi mengingatkan gangguan penerbangan tidak semata-mata ditentukan ada atau tidaknya kabut asap. Faktor angin dan parameter keselamatan penerbangan juga berpengaruh. Saat angin cukup kuat dan kondisi jarak pandang memenuhi parameter keselamatan, pesawat masih dapat mendarat maupun lepas landas meski kabut asap masih berada di sekitar wilayah bandara. (ter/ens)


Dilihat 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *