SAMPIT – Dua warga asal Samuda, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), hingga kini masih dinantikan kabarnya setelah menjadi penumpang KM Virgo Transport 8 yang mengalami insiden di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026) dini hari WIB.
Keduanya diketahui merupakan pasangan suami istri (pasutri), yakni Helianto (55) dan Novika Liana (43). Mereka merupakan keluarga anggota DPRD Kotim, Wahito Fajriannoor, dan hingga kini masih belum diketahui kondisi maupun keberadaannya.
Wahito mengatakan, kedua korban sebenarnya merupakan warga asal Samuda yang menjalankan usaha di Sampit.
Namun selama ini keduanya berdomisili di Surabaya dan cukup sering melakukan perjalanan pulang-pergi antara Surabaya, Sampit, dan Banjarmasin.
“Mereka orang Samuda, usaha di Sampit. Memang tinggal di Surabaya, tetapi tetap pulang-pergi. Kemarin lewat Banjarmasin karena mobilnya ditinggal di sana,” jelas Wahito, Selasa (15/9/2026).
Perjalanan tersebut juga berkaitan dengan rencana keluarga untuk menghadiri acara pernikahan yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu mendatang.
Namun perjalanan itu berubah menjadi situasi yang mengkhawatirkan bagi keluarga. Sekitar dini hari sebelum komunikasi terputus, korban sempat menghubungi keluarga dan menyampaikan bahwa kondisi kapal sudah dalam keadaan miring.
“Sekitar jam 2 malam korban menghubungi keluarga, menyampaikan kondisi kapal miring. Kemudian menghubungi keluarga yang lain dan meminta doa,” ungkap Wahito.
Pesan tersebut menjadi komunikasi terakhir yang diterima keluarga. Setelah itu, upaya menghubungi keduanya tidak lagi mendapatkan respons.
“Kami berdoa yang terbaik untuk keluarga dan berharap bisa mengetahui kondisi keluarga. Komunikasi terakhir itu meminta doa, setelah itu tidak bisa dihubungi sama sekali,” katanya.
Kabar tersebut membuat keluarga bergerak mencari informasi. Anak korban, Rico, bahkan telah berada di Banjarmasin dan sejak pagi mendatangi Pelabuhan Trisakti untuk mendapatkan informasi terbaru terkait proses pencarian dan evakuasi.
Rico juga telah berupaya melakukan koordinasi dengan Basarnas guna mengetahui perkembangan pencarian kedua orang tuanya.
Wahito mengatakan, koordinasi dengan sejumlah pihak dan kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian juga telah dilakukan. Namun informasi terakhir yang diterima keluarga, Helianto dan Novika belum ditemukan.
“Sudah ada koordinasi dengan beberapa kapal, tetapi dari hasil keterangan belum ditemukan. Sampai sore kemarin sekitar jam 6, dari proses evakuasi yang menampung banyak korban, baik yang selamat maupun meninggal, keluarga kami belum ada,” ujarnya.
Keluarga juga memiliki rekaman video yang sempat dibuat korban sesaat sebelum kapal berangkat. Dalam video tersebut, korban terlihat memasuki kamar yang mereka tempati di kapal.
Helianto dan Novika diketahui menempati kamar VIP 002 yang diperkirakan berada di bagian depan kapal.
Kondisi tersebut menjadi salah satu kekhawatiran keluarga karena posisi kamar dan kondisi kapal yang miring diduga dapat menyulitkan penumpang untuk keluar menuju area terbuka.
“Korban sempat memvideo saat masuk kamar sebelum berangkat. Posisi kamar itu kemungkinan paling depan, dan posisi di dalam harus ekstra untuk keluar, terlebih kejadian pada dini hari,” jelas Wahito.
Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diketahui keluarga, kamar tersebut diperkirakan berada di lantai tiga. Apabila kapal semakin miring, akses menuju area terbuka dinilai tidak mudah.
“Kalau di lantai tiga, untuk menyelamatkan diri ke area terbuka kemungkinan sulit karena harus memutar kembali,” katanya.
Wahito menambahkan, perjalanan melalui jalur Banjarmasin bukanlah hal baru bagi kedua korban. Keduanya cukup sering menggunakan jalur tersebut karena pertimbangan akses transportasi maupun kendaraan yang mereka miliki.
“Beliau pelaku usaha dan sudah sering bolak-balik Sampit-Surabaya. Kadang pakai mobil. Kalau lewat Sampit kapalnya kecil, jadi kadang lewat Banjarmasin,” pungkasnya.
Hingga kini, keluarga masih menunggu informasi resmi mengenai keberadaan Helianto dan Novika. Harapan agar keduanya segera ditemukan dalam kondisi selamat terus disampaikan keluarga, sembari menunggu perkembangan proses pencarian dan evakuasi dari petugas di lapangan. (pri/ens)
Dilihat 14


