PALANGKA RAYA – Langit Kota Palangka Raya dalam tiga hari terakhir tak lagi dihiasi mondar-mandirnya helikopter water bombing (WB) yang biasanya menjadi pemandangan di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Aktivitas armada udara yang selama ini dikerahkan untuk membantu memadamkan karhutla tersebut terpaksa tidak dapat berjalan maksimal. Kondisi jarak pandang yang menurun akibat kabut asap menjadi salah satu kendala utama.
Kalaksa BP BPK Kalteng Ahmad Toyib mengakui, operasi water bombing belum bisa dilakukan secara maksimal karena faktor visibility. Padahal, kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Tumbang Nusa yang kini menghadapi kobaran api yang bergerak cepat.
“Optimalisasi WB melalui satgas udara tidak bisa dilakukan secara maksimal. Makanya pergerakan kepala apinya menjadi cepat karena didukung angin kencang di lokasi,” kata Toyib, Senin (31/8/26).
Menurutnya, dalam dua hari terakhir kondisi visibility di Kota Palangka Raya mengalami penurunan cukup signifikan. Situasi tersebut membuat pergerakan helikopter menjadi terbatas karena operasi water bombing membutuhkan kondisi jarak pandang yang memenuhi standar keselamatan.
Toyib menyebut helikopter WB baru dapat bekerja apabila jarak pandang di Palangka Raya berada di atas 1.500 meter.
“Sekarang ada empat unit yang siap bekerja. Tinggal menunggu visibility di Palangka Raya. Kalau visibility-nya di atas 1.500, heli WB bisa bekerja,” ujarnya.
Dengan demikian, persoalan saat ini bukan karena seluruh armada helikopter tidak tersedia. Dari lima unit WB yang disiapkan, empat unit dalam kondisi siap digunakan.
Satu unit yang sebelumnya menjalani maintenance telah kembali beroperasi. Sedangkan satu unit lainnya masih dalam proses perbaikan karena harus melakukan penggantian mesin.
Namun, kesiapan armada tersebut belum otomatis membuat operasi udara bisa kembali maksimal. Faktor cuaca dan jarak pandang menjadi penentu utama apakah helikopter dapat diterbangkan untuk menjalankan misi water bombing.
Sementara itu, data akumulasi karhutla BPBD Kalteng hingga 30 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB mencatat 49.551 hotspot dan 2.222 kejadian karhutla. Luas kebakaran berdasarkan laporan kabupaten/kota mencapai sekitar 6.358,71 hektare. (ifa/)
Dilihat 97


