Malam Panjang Penyelamatan Bilqis: Ketika Polisi Berpacu Melawan Waktu

Ilustrasi perdagangan manusia yang mencerminkan upaya polisi memberantas jaringan perdagangan anak di Indonesia.

MAKASAR, KOMPAS — Di tengah gelap malam Kota Makassar, tim kecil dari Polda Sulawesi Selatan berpacu dengan waktu. Mereka baru saja mendapat petunjuk penting: seorang balita yang hilang tiga hari lalu, Bilqis (4), diduga telah dibawa keluar pulau. Tanpa banyak waktu, tim langsung bergerak.

“Kalau terlambat sedikit saja, anak itu bisa hilang jejak,” kata seorang penyidik di unit PPA Polda Sulsel.

Kasus ini bermula dari laporan orang tua Bilqis yang panik karena sang anak tiba-tiba menghilang dari rumahnya di kawasan Panakkukang. Hanya dalam hitungan jam, foto Bilqis menyebar di media sosial, memicu keprihatinan warga dan membuat polisi bertindak cepat.

Jejak Digital di Balik Kasus

Penelusuran awal mengarah pada seorang perempuan berinisial SY, yang diketahui menjual Bilqis kepada pembeli dari Jakarta seharga Rp3 juta. Dari sana, penyidik menemukan pola transaksi yang berulang — korban berpindah tangan seperti barang dagangan.

“Korban dibawa ke Jambi, dijual lagi ke pasangan suami istri seharga Rp15 juta, lalu berpindah lagi ke kelompok masyarakat tertentu dengan nilai mencapai Rp80 juta,” ungkap Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, Senin (10/11/2025).

Yang lebih mencengangkan, dari hasil pemeriksaan, jaringan ini diduga sudah memperjualbelikan sedikitnya sembilan bayi dan satu anak melalui platform TikTok dan WhatsApp.

Pencarian Nonstop

Seorang anggota tim penyidik menceritakan, sejak hari pertama laporan masuk, mereka hampir tidak tidur. “Kami cuma sempat pulang buat ganti baju,” ujarnya.

Koordinasi lintas daerah dilakukan cepat — Makassar, Jambi, hingga Sukoharjo, Jawa Tengah. Dalam waktu kurang dari sepekan, empat pelaku berhasil ditangkap. Bilqis ditemukan dalam keadaan selamat.

Tangis haru pun pecah saat Bilqis dipertemukan kembali dengan orang tuanya. Seorang petugas mengaku tidak bisa menahan air mata. “Kami semua orang tua juga. Jadi kami tahu rasanya kehilangan anak,” katanya lirih.

See also  Beli Ganja Seberat 1 Ons, Mahasiswa Ini Diringkus BNNP Kalteng

Ancaman di Dunia Maya

Pakar perlindungan anak menilai, meningkatnya kasus seperti ini tak lepas dari lemahnya pengawasan adopsi dan penjualan anak di media sosial.

“Platform digital kini jadi pasar gelap yang sunyi. Karena itu, sinergi penegak hukum dan masyarakat sangat penting,” ujar pengamat sosial Ratih Widyasari.

Kini, Bilqis kembali bermain di halaman rumahnya, dikelilingi keluarga yang tak henti bersyukur. Namun kisahnya menjadi peringatan bahwa di balik layar ponsel, ancaman bisa mengintai siapa pun — bahkan seorang anak kecil berusia empat tahun.(Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *