PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi provinsi dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tertinggi kedua dari enam provinsi yang menjadi fokus penanganan pemerintah pusat.
Wakil Wali (Wawali) Kota Palangka Raya Achmad Zaini mengatakan, posisi tersebut menunjukkan Karhutla di Kalteng masih tergolong tinggi meski indikator titik panas atau hotspot mulai mengalami penurunan.
Dalam rapat koordinasi pemerintah dengan pemegang hak guna usaha dan pemanfaatan usaha di hutan bersama Menteri Kehutanan dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), disampaikan jumlah hotspot di Kalteng turun dari sebelumnya 316 titik menjadi 263 titik.
Namun, berdasarkan kondisi penanganan secara keseluruhan, Kalteng masih menempati urutan kedua untuk tingkat kejadian Karhutla di antara enam provinsi yang menjadi fokus pemerintah.
“Hotspot di Kalteng menurut paparan Pak Menteri tadi sudah bisa turun, dari 316 menjadi 263 hotspot. Tapi ini urutan kedua kita di antara enam provinsi, masih tinggi,” kata Achmad Zaini, Senin (7/9/26).
Zaini menegaskan, angka kejadian kebakaran secara keseluruhan tidak dipaparkan secara rinci dalam rapat tersebut. Penurunan hotspot menjadi salah satu indikator yang menunjukkan adanya perkembangan dalam kondisi Karhutla di Kalteng.
“Memang kejadian kebakaran tadi tidak tersampaikan, tetapi indikator hotspotnya ini kelihatan menurun,” ujarnya.
Meski hotspot mengalami penurunan, posisi Kalteng sebagai wilayah dengan kejadian Karhutla tertinggi kedua dari enam provinsi membuat penanganan tetap menjadi perhatian. Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah wilayah yang masih mengalami kebakaran.
“Kondisi tersebut membutuhkan sinergi antarpihak agar penanganan Karhutla di Kalteng dapat terus diperkuat,” pungkasnya (ifa/)
Dilihat 52


